“Sadar adalah Dasar.” – Erbe Sentanu
Seperti yang kita saksikan hari ini, hampir semua industri ada AI-nya, mereka berlomba-lomba menghadirkan AI agar jadi lebih menarik dan variatif.
Tapi, bagaimana dengan nasib content writer di masa depan? Benarkah kita akan digantikan AI?
“Nah, iya, Kadika, apakah masa depan content writer masih menjanjikan?”
Jawabannya, iya.
Ada tapinya, nih. Hmmm…
Tapinya, kamu penting beradaptasi dan update knowledge. Kalau nggak, ya, selamat malam. 😫
Dari pengalaman menggunakan ChatGPT selama 2 tahun terakhir ini—pas awal hadir, Kadika langsung pake.
Ada beberapa hal yang bisa Kadika bagikan yang bikin profesi content writer malah makin cerah. Siap?
Sebab, kalau kita masih pengen maksain kondisi seperti 5 tahun yang lalu, kita akan tertinggal, dan itu menyakitkan.
“Jadi apa Kadika?”
Berkolaborasi dengan AI adalah Kunci
Beberapa bulan terakhir, setelah langganan ChatGPT Plus, Kadika mulai melatih ChatGPT sebagai asisten pribadi yang bisa melakukan apa saja yang Kadika butuhkan dan inginkan.
Hasilnya cukup memuaskan dan relevan dengan pribadi Kadika.
Karena sudah Kadika input data-data diri Kadika agar bisa menciptakan hasil yang sesuai karakter dan kepribadian Kadika.
Nggak ada jalan lain, selain menerima dan mengikuti aliran perubahan ini. Tidak lain dan tidak bukan, kita libatkan AI dalam bekerja. Lebih spesifiknya Kadika pakai ChatGPT.
Kadika melibatkan ChatGPT, mulai dari:
- Brainstorming
- Validasi ide
- Bikin konten dari nol
- Bantuin konsep nulis ebook
- Bantuin bikin sales letter
- Bantuin bikin gambar buat cover
- Bantuin bikin email promosi
Sudah sedekat itu dengan ChatGPT, kalau ditanya $20 worth it atau nggak, jelas worth itu, selama kita memang tahu cara melatihnya.
Sebelum Kadika tahu cara menggunakan ChatGPT, cuman sekadar bertanya tiada guna, dan tanpa kejelasan tujuan. Chat gabut doang, wkwkwk…
Buat kamu yang secara merasa mulai keringet dingin dan pengen segera berubah dan bertindak. Tenang, Kadika sudah siapin solusinya.
Kalau kamu ikut Certified Impactful Writer, bakalan dapat kelas tambahan Bagaimana ChatGPT Mengubah Cara Content Writer Bekerja.
Kalau pun, belum ada kesempatan ikut, bisa join short course Effortless Writing, masih coming soon.
Ya, kalau yang sudah pernah ikut kelas atau program atau baca ebooknya Kadika, pasti akan menanti.
Sebab, apa yang Kadika bagikan buka-bukaan dengan apa yang sudah pernah Kadika lakukan, dan tentu saja praktis, bisa langsung dipratekkan.
Menariknya, kalau kita sudah bisa melatih ChatGPT menulis sesuai karakter dan gaya bahasa kita.
Pembaca bisa biasa aja dengan hasilnya, karena saking nggak ada perbedaan ChatGPT dengan tulisan kita. Sebab ChatGPT bisa menghasilkan 90% akurat secara penulisannya.
Keren, ya?
Bahkan sekarang perusahaan pengen content writernya bisa menggunakan atau minimal akrab menggunakan ChatGPT.
Mungkin di luar sana ada pikiran yang mengganjal, “lah, kalau AI sudah bisa menulis yang persis kayak content writer, terus kehadiranku buat apa?”
Ya, kehadiranmu buat….
Content Writer Bikin Artikel Makin Kredibel
Kehadiran content writer bikin konten artikel jadi makin kredibel alias bisa dipercaya.
Karena meski ChatGPT canggih, hasil yang diciptakan akan tercermin siapa yang menggunakan ChatGPT tersebut.
Jadi, penting menjadi pribadi yang dipercaya, dan Kadika yakin kamu nggak akan sembarangan posting kalau menyangkut reputasi di internet.
Kamu akan berupaya sebisa mungkin nggak mempublikasikan sesuatu yang berpotensi bikin gaduh, atau bahkan hoaks.
Dari sekarang mulai pikirin topik mana yang kamu sukai dan kuasai, karena dengan memilih topik yang kamu sukai dan kuasai, akan tercipta sudut pandang yang tak biasa, unthinkable.
Kamu tahu?
Kalau sudut pandang yang tak biasa itu sering kali memengaruhi orang lain bertindak, dan bikin pembaca atau audiens jadi lebih trust.
Maka dari itu, biar dipercaya, dan bisa mengendalikan AI, penting memiliki dua hal ini.
Karena ini yang akan membedakan kamu dari kebanyakan orang.
“Terus, bagaimana caranya agar tulisan kita tetap bernilai Kadika?”
Dua Hal yang Perlu Content Writer Dalami
Dua hal yang bikin kita mudah berkolaborasi dengan ChatGPT, apa itu?
✅ Kompetensi.
✅ Karakter.
Kompetensi untuk standar tulisan kamu.
Karakter untuk menciptakan hasil AI yang selaras dengan ciri khasmu.
Makanya kalau seseorang masih ragu dengan hasil ChatGPT, karena boleh jadi hasilnya nggak familier dengan pengetahuan yang dimiliki content writer.
Contoh, Kadika minta menulis tentang digital marketing untuk F&B, karena bidang ini nggak ngerti, Kadika jadi ragu dengan hasilnya, “apakah ini benar jawabannya?”
Makanya di Certified Impactful Writer itu ada uji kompetensinya, biar apa? Ya, naikin value kapasitas diri kamu dong, dan jadi punya standar menulis—kompetensi.
Karena kita nggak akan bisa menilai tulisan itu bagus atau nggak, kalau kita sendiri belum bisa, bahkan belum tahu cara menulis yang bagus itu kayak apa.
Masuk akal?
Terus, yang penting dikembangkan adalah gaya bahasa kamu.
Ini yang bikin nanti kamu punya ciri khas, meski hasil tulisan kamu ditulis sama ChatGPT.
Sering-sering menulis, menulis apa adanya, kamu akan terhubung dengan rasa yang kamu rasakan ketika menulis.
Ini yang bikin tulisan kita akan tetap terasa kita yang nulis—meski ChatGPT yang nulis. Karena kita sudah punya standar karakter kita kayak gimana.
Gimana kebayang?
2 Aktivitas Penting yang Akan Sering Dilakukan
Nah, ini adalah puncaknya, yang sebelum-sebelumnya adalah sesuatu yang nggak terlihat, tapi sangat menentukan.
Kedepannya content writer akan lebih banyak atau dominan editing dan proofreading.
Karena ChatGPT bisa makin humanis hasilnya setelah kita latih, akhirnya kita sempurnakan tulisan tersebut dengan ciri khas kita.
Ide ini muncul ketika Kadika mengedit tulisan biar jadi “Gue Banget”, selama kita punya kompetensinya dan mau terus belajar, ya, insyaaAllah aman.
Ada 7 kebiasaan impactful writer yang perlu dibangun agar mudah mendapaktan jobs.
Meski demikian, penting untuk terus meluaskan wawasan, agar tulisan yang kamu edit, makin bernilai dan makin terasa itu kamu yang nulis.
Kesimpulannya Masa Depan Content Writer Masih Sangat CERAH
Selama apa?
Ya, content writernya mau terus beradaptasi, sebab content writing ini kan masuknya marketing, ya, sedangkan marketing begitu dinamis.
Kalau kamu bisa beradaptasi, ya, kamu layak jadi AI Content Writer. Hihi.
Jadi, pendapat kamu?
Sampai jumpa di tulisan berikutnya.
Kadika
Btw, nungguin short course kelamaan, ikut kelas ini saja. Biar berinteraksi langsung sama Kadika. Kita bisa diskusi. Okey?